Rabu, 20 Mei 2015

Johan Cruyff, Lebih Dari Seorang Legenda


FCB Legend: Johan Cruyff, Lebih Dari Seorang Legenda

Hendrik Johannes Cruijff, Lahir pada 25 April 1947 tepatnya di ibukota Belanda yaitu Amsterdam. Karir sepakbolanya bermula dari akademi Ajax Amsterdam pada tahun 1957 yang kemudian menjadi penghuni tetap tim utama sejak tahun 1964. Di Ajax inilah namanya menjelma sebagai pesepakbola besar dibawah asuhan sang pelatih, yang sudah seperti ayahnya sendiri yaitu Rinus Michels. Bukan sekedar merajai eropa namun Ajax kala itu sangat dipuja dunia karena permainan yang tenar dengan sebutan total football. Total football merupakan sebuah skema sepakbola yang dirancang khusus dengan mengutamakan kecepatan, akurasi umpan pendek, dan permutasi (pertukaran) posisi antar pemain.
Final Piala Eropa tahun 1971 di Wembley. Ajax vs Panathinaikos. – Offside / L’Equipe
Total Football yang dianut oleh Ajax inilah yang kelak membawa klub tersebut menjadi “dewa” di eropa. Rinus Michels yang jenius bertemu dengan Cruyff yang sangat bisa mengimplementasikan strateginya di lapangan. Cruyff pada awalnya berposisi sebagai penyerang tengah di skema 4-3-3 dalam total football, namun pada perjalanan waktu, ia bisa berubah posisi sebagai false 9, playmaker bahkan penyerang sayap. Bukan sekedar Cruyff hampir seluruh skuad bisa melakukan permutasi posisi pemain. Namun demikian Cruyff tetaplah otak utama dalam skema rancangan Rinus Michels.

Karir Sebagai Pemain di Barça

Rinus Michels dan Cruyff berpisah pada tahun 1971, Michels didapuk menjadi pelatih Barça sementara Cruyff melanjutkan kejayaan di Ajax yang akhirnya bisa menyabet gelar eropa (piala champions) 3x beruturut – turut. 2 musim pertama Rinus Michels, tidak menghasilkan gelar apapun bagi Barça hingga akhirnya ia di ultimatim jika musim ketiga masih nir gelar maka ia akan dipecat, namun kala itu manajemen Barça juga bersedia memenuhi tuntutan Rinus agar Barça bisa meraih trofi. Permintaan Rinus kala itu sangat simple, Datangkan Cruyff!.
Tahun 1973, akhirnya Cruyff resmi berseragam Barça, dengan komando di bawah Rinus Michels sudah jelas Barça menjelma menjadi tim pengusung Total Football di ranah spanyol, hasilnya langsung kentara, gelar la liga yang telah absen selama lebih dari 13 tahun akhirnya berhasil kembali dibawa ke lemari trofi Barça. Selain gelar, skema total football yang sangat dinamis menambah kisah tersendiri bagi kesuksesan Barça di era 70an. Semusim kemudian “saudara kembar”nya yaitu Neeskens ikut menyusul ke Barça, meskipun 3 musim tanpa gelar, akhirnya kombinasi keduanya (dibawah komando Rinus) berhasil mengantar Barça juara copa del rey pada tahun 1978.
Penandatangan kontrak Cruyff di FC Bacelona. – Getty Images
Cruyff sendiri debut bersama Barça di partai la liga melawan Granada pada tanggal 10 oktober 1973. Kala itu Barça menghantam Granada dengan skor 4-0 dan Cruyff sempat mencetak 2 gol dalam partai tersebut. Di musim perdana ini juga Cruyff mencetak sejarah manis dalam el clasico, Barça dibawa menghantam Real Madrid 5-0 di Santiago Bernabeu melalui permainan total football yang sangat indah. Selama 5 musim di Barça, Cruyff melahap 184 partai dan berhasil mencetak 61 gol. Ia menyumbang 2 tropi yaitu la liga pada tahun 1974 dan Copa Del Rey pada tahun 1978. Di ajang Copa Del Rey ia baru bisa bermain pada musim terakhirnya karena di spanyol hingga musim 1976/77 hanya memperbolehkan pemain lokal untuk bermain di ajang Copa Del Rey.
Salah satu gol terbaik Cruyff saat membela Barça terjadi pada laga melawan Atletico Madrid ke gawang Miguel Reina (ayah Pepe Reina) gol ini terkenal dengan istilah Phantom goal, kala itu Bola berada jauh di depan jangkauan Cruyff namun dengan cerdas, Cruyff melentingkan badannya agar lompatannya menjadi lebih jauh lalu menahan laju bole dengan kaki kanan bagian luar untuk disontek ke gawang. Selain gol hebat tersebut, Cruyff juga memiliki sebuah gerakan khusus yang biasa disebut Cruyff Turn, dimana dia memutar badan lalu bola digocek menggunakan kaki kanan melalui belakang kaki kiri.
Cruyff saat menjadi pemain Barça. – iefimerida
Saat menjadi pemain, Cruyff memang tidak gemerlap secara gelar, ia hanya menyumbang 2 trofi. Namun skema Total Football yang ia pimpin berhasil menghipnotis dunia, Barça menjadi tim yang sangat enak dilihat dan tidak membosankan. Ini merupakan perubahan ditengah skema kick n rush yang sedang populer di jaman itu. Sesaat sebelum pergi meninggalkan Barça, kala itu Cruyff sempat menitipkan pesan kepada presiden Luis Nunez agar Barça mencontoh Ajax untuk membuka akademi agar tim ini bisa semakin merepresentasikan catalan. Cruyff melihat banyak bibit bagus di tanah catalan namun Barça selaku klub terbesar belum memiliki akademi yang layak untuk berkarir. Kelak akhirnya atas ide ini lahirlah la masia yang kemudian sekitar 20 tahun kemudian hasilnya membawa Barça berjaya di eropa.

Karir sebagai pelatih di Barça

Setelah tutup karir sebagai pemain dan sempat membesut Ajax Amsterdam. Cruyff kembali ke Barça pada tahun 1988. Disinilah karir kepelatihannya melesat cepat, Barça yang semula dianggap klub biasa-biasa saja, tenggelam dalam era quinte del buttire milik Real Madrid mendadak menjelma menjadi klub yang disegani baik domestik maupun eropa.
Cruyff saat menjadi pelatih bersama Guardiola. – Google
Selain raihan trofi yang ciamik dimana Barça diantarnya untuk menjuarai piala champions pertama kali, Cruyff meninggalkan 2 hal yang hingga kini pasti masih menginspirasi banyak orang di bidang sepakbola yakni; permainan indah melalui skema total football dan juga mengutamakan pemain hasil binaan akademi klub tersebut. Amor dan Guardiola adalah dua nama yang melejit dibawah polesan Cruyff, keduanya merupakan alumni la masia angkatan pertama dan kedua. Sepakbola yang dinamis dan juga permutasi posisi pemain di lapangan sudah menjadi harga mati yang wajib tersaji saat Barça bermain.
Salah satu laga terbaiknya tersaji saat Madrid dihantam 5-0 oleh Barça di Camp Nou pada tahun 1994. Kala itu Cruyff mengusung pola 3-4-3 dengan beberapa pemain sering melakukan permutasi posisi. Bukan hanya permutasi posisi, pemain juga ditempatkan diluar posisi salinya, berikut diantaranya; Goikoetxea yang merupakan pemain tengah dan Ferrer yang merupakan bek sayap menemani Koeman sebagai CB. Nadal yang naturaknya CB dijadikan gelandang tengah bersama Amor sementara Pep sebagai Pivot dan Bakero menjadi playmaker. Di wing kiri diisi oleh sergi Barjuan yang aslinya merupakan wing back kiri seperti Alba. Romario dan Stoichkov melengkapi skuad malam itu.
Skuad Cruyff yang membawa Barça menjuarai piala Champions 1992. – Daily Mail
Setelah berhasil menyumbang 4 la liga, 1 copa del rey, 3 piala super spanyol, 1 piala champions, 1 piala winners dan 1 piala super cup prestasi Barça mulai menurun. Cruyff seperti sudah mentok dalam mengelola skuad Barça, satu persatu pemain pergi dan perstasipun mulai surut. Di tengah kegoyahan era dream team 1 tersebut Cruyff akhirnya dipecat setalah sebelumnya sempat berselisih paham dengan sang presiden yaitu Luis Nunez. Tidak terima dan frustasi karena merasa sudah membawa Barça berjaya dan berada dalam masa terbaiknya, ia akhirnya bersumpah tidak mau melatih klub manapun selepas pemecatan ini.

Konflik dengan Rosell

Salah satu kepingan terakhir cerita tentang Cruyff terhadap Barça tentulah masa Laporta. Ia dikenal menjadi penasihat ulung Laporta yang berujung sukses menambah dua trofi liga champions bagi Barça. Setelah melalui perjalanan yang panjang akhirnya Cruyff diangkat oleh laporta menjadi presiden kehormatan bagi Barça. Langkah ini sebenarnya bisa diterima oleh para pendukung mengingat jasa – jasa Cruyff sangat besar. Namun sayangnya proses ini bisa dikatakan inskonstitusional karena seharusnya meminta persetujuan terlebih dahulu terhadap anggota socios.
Cruyff saat diangkat menjadi presiden kehormatan FC Barcelona – AP Photo
Ketika Sandro Rosell naik pada tahun 2010, beberapa saat kemudian Cruyff dicopot dari presiden kehormatan Barça. Rosell beralasan karena penunjukkan Cruyff tersebut inkonstitusional karena tanpa persetujuan socios (anggota/fans resmi yang terdaftar di klub). Akhirnya Cruyff kembali kecewa dengan perlakuan Barça terhadapnya, hingga kini Cruyff masih menyimpan dendam kepada Rosell akhirnya perlahan lahan kritik selalu terlontar dari mulutnya setiap ada kebijakan Rosell yang menurutnya kurang tepat termasuk didalamnya gagal memperpanjang kontrak Guardiola sebagai pelatih dan pembelian Neymar.

Penutup

Johan Cruyff adalah FC Barcelona, sumbangsihnya baik sebagai pemain, pelatih maupun pemikirannya jelas sangat berpengaruh hingga terciptanya Barça saat ini. Sebagai pemain dan pelatih ia menanamkan Barça adalah klub yang bermain dengan hati, penguasaan bola penuh, indah dilihat, selalu menyerang dan mengutamakan kemenangan. Sebagi pribadi ia banyak memberi masukan bagi Barça dimana La Masia adalah salah satu buah pemikirannya yang paling nyata dimana akhirnya akademi inilah yang mengantar kesuksesan Barça dalam 5 musim terakhir. Cruyff juga sedikit banyak memberikan masukan pada era Laporta dimana kala itu banyak gelar dan kesuksesan dalam perekrutan pemain.
Cruyff saat melatih Barça memberikan konfrensi pers. – Reuters
Cruyff akan selalu hidup dalam urat nadi FC Barcelona, terlepas apapun posisinya saat ini, sungguh kejam dan tidak adil jika kita semua selaku Cules tidak meletakannya pada posisi teratas dalam hati kita masing-masing. Cruyff jelas layak dikenal sebagai pemain dan pelatih yang mengangkat prestasi Barça namun sejatinya peninggalan berupa pola permainan, pembibitan pemain melalui akademi dan ide – ide briliannya adalah sumbangan yang paling berharga untuk Barça

Tidak ada komentar:

Posting Komentar